A. Polihidramnion
Insidensi hidramnion
dijumpai pada sekitar satu persen dari semua kehamilan. Diagnosis
polihidramnion/ hidramnion ditentukan dari pemeriksaan USG. Batasan hidramnion
adalah apabila volume cairan ketuban melebihi 2000 mL. Hidrmnion ringan apabila
lebih dari 2000 mL, Sedangkan hidramnion sedang apabila lebih dari 3000 mL.
Diagnosis klinis sulit ditegakkan, dan cukup bervariasi dengan menggunakan
pengukuran yang berbeda-beda. Untuk itu pemeriksaan USG dapat dibantu dengan
pemeriksaan pengukuran lingkar perut menggunakan medline.
Tanda dan gejala
hidramnion: ibu hamil bisanya mengeluh sesak
nafas dan ketidaknyamanan pada daerah perut. Apabila hidramnion terjadi secara
akut, maka ibu akan mengalami nyeri abdomen yang berat. Kondisi ini dapat memperburuk
berbagai gejala yang berhubungan dengan kehamilan, seperti indigesti, nyeri ulu
hati, dan konstipasi. Edema dan varices vulva serta ekstrimitas bawah juga
dapat terjadi. Pada saat pemeriksaan inspeksi abdomen: uterus berukuran lebih
besar dari usia gestasi yang seharusnya, dan berbentuk globular. Kulit abdomen
tampak tegang dan mengkilat dengan striae gravidarum dan pembuluh darah
supervisial yang terlihat jelas. Pada pemeriksaan palpasi: uterus terasa keras
dan sulit untuk meraba bagian janin, tetapi kemungkinan janin dapat diraba di
antara kedua tangan. Getaran cairan dapat dirasakan dengan meletakkan satu
tangan pada satu sisi lainnya dengan jari. Gelombang cairan akan bergerak dari
sisi yang diketuk dan dirasakan pada tangan lainnya. Pemeriksaan auskultasi
denyut jantung janin mungkin akan sulit dilakukan jika jumlah cairan yang ada
menyebabkan janin berpindah menjauh dari letak stetokop/Doppler.
Derajat hidramnion
dan prognosisnya berkaitan dengan
penyebabnya. Penyebab hidramnion meliputi: atresia esophagus, defek tuba
neuralis terbuka, kehamilan kembar terutama pada kasus kembar monozigot,
diabetes mellitus maternal, pada kasus yang jarang berhubungan dengan
isoimunisasi Rhesus, korioangioma (tumor yang jarang ditemukan pada placenta),
dan pada banyak kasus penyebabnya tidak diketahui.
Polihidramnion kronis
terjadi secara bertahap, biasanya dimulai pada usia kehamilan kira-kira 30
minggu. Tipe ini yang paling sering terjadi. Sedangkan polihidramnion akut
jarang terjadi. Tipe ini terjadi pada 20 minggu kehamilan dan muncul dengan
sangat tiba-tiba. Uterus mencapai sifisternum dalam 3-4 hari. Tipe ini
berhubungan dengan kembar monozigotik atau abnormalitas janin yang parah.
Hidramnion dapat
menyebabkan komplikasi maternal-perinatal: obstruksi uterik
maternal, peningkatan mobilitas janin yang mengakibatkan letak janin tidak
stabil dan malpresentasi, presentasi dan prolapse tali pusat, ketuban pecah
dini, solusio placenta saat ketuban pecah, kelahiran premature, meningkatkan
insiden section sesarea, perdarahan pascapartum, dan peningkatan angka kematian
perinatal.
Jika memungkinkan, penyebab
hidramnion pada ibu hamil harus ditentukan. Ibu hamil yang mengalami hidramnion
dapat dirujuk ke unit konsultan kebidanan. Asuhan selanjutnya akan bergantung
pada kondisi ibu dan janin, penyebab, derajat hidramnion, serta tahapan
kehamilan (umur kehamilan). Hidrmnion ringan yang asimtomatik tidak langsung
ditangani. Ibu yang mengalami hidramnion ringan biasanya tidak rirawat di rumah
sakit, namun harus segera ke rumah sakit apabila mengalami pecah ketuban. Ibu
harus dianjurkan istirahat yang cukup, dan hindari stress psikologis. Ibu
membutuhkan penjelasan lengkap tentang kondisinya dan dukungan psikologis dari
tenaga kesehatan yang merawatnya. Pada ibu hamil yang mengalami hidramnion
asimtomatik, posisi tegak akan membantu mengurangi sesak nafas dan dapat
diberikan antacid untuk mengurangi nyeri ulu hati dan mual. Jika gejala
memburuk, kehamilan dapat diakhiri dengan memberikan induksi persalinan.
Okkkk
BalasHapuslanjutkan sya
BalasHapuskeren say
BalasHapusokkk bost
BalasHapussmoga mmbntu say
BalasHapusmmbntu bngat say
BalasHapusmnunjng bngt say
BalasHapusm,mbntu bngat sayy
BalasHapus