Minggu, 31 Juli 2016

ALAT REPRODUKSI

Mons Veneris
Mons veneris adalah bagian yang sedikit menonjol dan bagian yang menutupi tulang kemaluan (simfisis pubis). Bagian ini disusun oleh jaringan lemak dengan sedikit jaringan ikat. Mons Veneris juga sering dikenal dengan nama gunung venus, ketika dewasa bagian mons veneris akan ditutupi oleh rambut – rambut kemaluan dan membentuk pola seperti segitiga terbalik.

b. Labia Mayora (Bibir Besar Kemaluan)
Seperti namanya, Bagian ini berbentuk seperti bibir. Labia Mayora merupakan bagian lanjutan dari mons veneris yang berbentuk lonjok, menuju ke bawah dan bersatu membentuk perineum. Bagian Luar dari Labia Mayor disusun oleh jaringan lemak, kelenjar keringat, dan saat dewasa biasanya ditutupi oleh rambut – rambut kemaluan yang merupakan rambut dari mons veneris. Sedangkan selaput lemak yang tidak berambut, namun memiliki banyak ujung – ujung saraf sehingga sensitif saat melakukan hubungan seksual.

c. Labia Minora (Bibir Kecil Kemaluan)
Labia Minora merupakan organ berbentuk lipatan yang terdapat di dalam Labia Mayora. Alat ini tidak memiliki rambut, tersusun atas jaringan lemak, dan memiliki banyak pembuluh darah sehingga dapat membesar saat gairah seks bertambah. Bibir Kecil Kemaluan ini mengelilingi Orifisium Vagina (lubang Kemaluan). Labia Minora analog dengan Kulit Skrotum pada Alat Reproduksi Pria.

d. Klitoris
Klitoris adalah organ bersifat erektil yang sangat sensitif terhadap rangsangan saat hubungan seksual. Klitoris memiliki banyak pembuluh darah dan terdapat banyak ujung saraf padanya, oleh karena itu Organ ini sangat sensitif dan bersifat erektil. Klitoris Analog dengan Penis pada Alat Reproduksi Pria.

e. Vestibulum
Vestibulum adalah rongga pada kemaluan yang dibatasi oleh labia minora pada sisi kiri dan kanan, dibatasi oleh klitoris pada bagian atas, dan dibatasi oleh pertemuan dua labia minora pada bagian belakang (bawah) nya.
  • Vestibulum merupakan tempat bermuaranya :
  • Uretra (saluran kencing)
  • Muara Vagina (liang Senggama)

Masing – Masing Dua Lubang Saluran Kelenjar Bartholini dan Skene (Kelenjar ini mengeluarkan cairan seperti lendir saat pendahuluan hubungan untuk memudahkan masuknya penis)
f. Himen (Selaput Dara)
Himen merupakan selaput membran tipis yang menutupi lubang vagina. Himen ini mudah robek sehingga dapat dijadikan salah satu aspek untuk menilai keperawanan. Normalnya Himen memiliki satu lubang agak besar yang berbentuk seperti lingkaran. Himen merupakan tempat keluarnya cairan atau darah saat menstruasi. Saat Melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya himen biasanya akan robek dan mengeluarkan darah. Setelah melahirkan hanya akan tertinggal sisa – sisa himen yang disebut caruncula Hymenalis (caruncula mirtiformis).
2. ALAT REPRODUKSI (GENETALIA) DALAM
SUMBER GAMBAR KLIK DISINI
a. Vagina
Vagina adalah muskulo membranasea (Otot-Selaput) yang menghubungkan rahim dengan dunia luar. Vagina memiliki panjang sekitar 8 – 10 cm, terletak antara kandung kemih dan rektum, memiliki dinding yang berlipat – lipat, lapisan terluarnya merupakan selaput lendir, lapisan tengahnya tersusun atas otot-otot, dan lapisan paling dalam berupa jaringan ikat yang berserat. Vagina berfungsi sebagai jalan lahir, sebagai sarana dalam hubungan seksual dan sebagai saluran untuk mengalirkan darah dan lendir saat menstruasi.
Otot pada vagina merupakan otot yang berasal dari sphingter ani dan levator ani (Otot anus/dubur), sehingga otot ini dapat dikendalikan dan dilatih. Vagina tidak mempunyai kelenjar yang dapat menghasilkan cairan, tetapi cairan yang selalu membasahinya berasal dari kelenjar yang terdapat pada rahim.

b. Uterus (Rahim)
Uterus adalah organ berongga yang berbentuk seperti buah pir dengan berat sekitar 30 gram, dan tersusun atas lapisan – lapisan otot. Ruang pada rahim (Uterus) ini berbentuk segitiga dengan bagian atas yang lebih lebar. Fungsinya adalah sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya janin. Otot pada uterus bersifat elastis sehingga dapat menyesuaikan dan menjaga janin ketika proses kehamilan selama 9 bulan.
Pada bagian uterus terdapat Endometrium ( dinding rahim) yang terdiri dari sel –sel epitel dan membatasi uterus. Lapisan endometrium ini akan menebal pada saat ovulasi dan akan meluruh pada saat menstruasi. Untuk mempertahankan posisinya uterus disangga oleh ligamentum dan jaringan ikat.
Uterus memiliki beberapa bagian :
  • Korpus Uteri, yaitu bagian yang berbentuk seperti segitiga pada bagian atas
  • Serviks uteri, yaitu bagian yang berbentuk seperti silinder
  • Fundus Uteri, yaitu bagian korpus yang terletak di atas kedua pangkal tuba fallopi

Pada saat persalinan, rahim merupakan jalan lahir yang penting karena ototnya mampu mendorong janin untuk keluar, serta otot uterus dapat menutupi pembuluh darah untuk mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan. Setelah proses persalinan, rahim akan kembali ke bentuk semula dalam waktu sekitar 6 minggu.

c. Tuba Fallopi (Oviduk)
Tuba Fallopi (Oviduk) adalah organ yang menghubungkan Uterus (Rahim) dengan Indung Telur (Ovarium). Tuba Fallopi (Oviduk) juga sering disebut saluran telur karena bentuknya seperti saluran. Organ ini berjumlah dua buah dengan panjang 8 – 20 cm. Tuba Fallopi berfungsi untuk :
  • Sebagai saluran spermatozoa dan ovum
  • Penangkap ovum
  • Bisa menjadi tempat pembuahan (fertilisasi)
  • Sebagai tempat pertumbuhan hasil pembuahan sebelum mampu masuk ke bagian dalam Uterus (Rahim).

Tuba Fallopi (Oviduk)  terdiri atas 4 bagian :
  1. Infundibulum, yaitu bagian berbentuk seperti corong yang terletak di pangkal dan memiliki Fimbriae. Fimbriae berfungsi untuk menangkap ovum
  2. Pars ampularis, yaitu bagian agak lebar yang merupakan tempat bertemunya ovum dengan sperma (Pembuahan/fertilisasi)
  3. Pars Ismika, yaitu bagian tengah tuba yang sempit
  4. Pars Interstitialis, yaitu bagian tuba yang letaknya dekat dengan uterus.

d. Ovarium (Indung Telur)
Ovarium adalah kelenjar reproduksi utama pada wanita yang berfungsi untuk menghasilkan ovum (Sel telur) dan penghasil hormon seks utama. Ovarium berbentuk oval, dengan panjang 2,5 – 4 cm.  Terdapat sepasang Ovarium yang terletak di kanan dan kiri, dan dihubungkan dengan rahim oleh tuba fallopi. Umumnya setiap Ovarium pada wanita yang telah pubertas memiliki 300.000-an, dan sebagian besar sel telus ini mengalami kegagalan pematangan, rusak atau mati, sehingga benih sehat yang ada sekitar 300 - 400-an benih telur dan 1 ovum dikeluarkan setiap 28 hari oleh ovarium kiri dan kanan secara bergantian melalui proses menstruasi, sehingga saat benih telur habis, terjadilah menopause . Ovarium juga menghasilkan hormon estrogen dan progesteron yang berperan dalam proses Menstruasi.





Kamis, 28 Juli 2016

MATERI TUMBUH KEMBAG BALITA

Materi Tumbuh Kembang BALITA lengkap
1.PENGERTIAN ANAK BALITA
Anak Balita sebagai masa emas atau "golden age" yaitu insan manusia yang berusia 0-6 tahun (UU No. 20 Tahun 2003), meskipun sebagian pakar menyebut anak balita adalah anak dalam rentang usia 0-8 tahun. Kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang
bersifat unik, artinya memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan fisik
(koordinasi motorik halus dan motorik kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio-emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang sedang dilalui oleh anak tersebut.
Balita Secara psikologis, rentang usia tersebut dibagi dalam 3 tahapan yaitu masa sebelum lahir, masa bayi dan masa awal kanak-kanak. Pada ketiga tahapan tersebut banyak terjadi perubahan yang mencolok, baik fisik maupun psikologis, karena tekanan budaya dan harapan untuk menguasai tugas-tugas perkembangan tertentu, yang akan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Pembagian menurut tahapan tersebut sangat tergantung pada faktor sosial, yaitu tuntutan dan harapan untuk menguasai proses perkembangan yang harus dilampaui anak dari lingkungannya. Pada setiap tahap perkembangan, terdapat beberapa aspek fisik dan psikologis yang terjadi, misalnya pada masa bayi secara umum menunjukkan bahwa anak sangat tergantung pada orang dewasa, sedangkan saat anak memasuki awal masa kanakkanak, ketergantungan mulai berkurang dan ada harapan serta perlakuan tertentu
dari kelompok sosial serta mulai tumbuh kemandirian, yang akan berakhir saat anak mulai masuk sekolah dasar. Perkembangan pada setiap aspek memiliki tingkat dan kecepatan yang berbeda-beda baik, tergantung dari faktor individu maupun lingkungan yang menstimulirnya. Seluruh perkembangan ini akan dilampaui anak dan setiap aspek perkembangannya tidak berdiri sendiri melainkan saling terkait satu sama lain. Berdasarkan hal tersebut, maka tumbuh kembang anak serta kemampuan mereka dapat diidentifikasi lebih awal, yang selanjutnya dapat dikembangkan. Berbekal pemahaman tentang perkembangan anak balita maka orang tua atau orang dewasa lainnya dapat mengetahui titik terpenting untuk pengembangannya, dengan menitik beratkan pada masa belajar anak. Dengan demikian pertumbuhan dan perkembangan anak balita tersebut perlu diarahkan pada peletakan dasar-dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik, daya pikir, daya cipta, sosio-emosional, bahasa, komunikasi yang seimbang sebagai dasar pembentukan pribadi.
2.PERKEMBANGAN ANAK BALITA
A.Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Perkembangan kemampuan dasar anak-anak berkolerasi dengan pertumbuhan dan mempunyai pola yang tetap dan berlangsung secara berurutan. Dalam rangka merangsang tumbuh kembang anak secara optimal maka pengembangannya harus dilakukan secara menyeluruh terhadap semua aspek kemampuan yang sesuai dengan pembagian kelompok umur.
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan
interselular. Berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagain atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisai dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya.
B.Ciri Perkembangan Anak
Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri yang saling berkaitan. Ciriciri
tersebut adalah sebagai berikut.
1)Perkembangkan menimbulkan perubahan
Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi.
2)Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia mengalami tahapan sebelumnya. Contoh: seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri, dan tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kai dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terlambat. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan
perkembangan selanjutnya.
3)Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda-beda, baik
dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan
pada masing-masing anak.
4)Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi
peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain.
5)Perkembangan mempunyai pola yang tetap
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu:
a)Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah
anggota tubuh
b)Perkembangan terjadi lebih dahulu pada kemampuan gerak kasar diikuti
kemampuan gerak halus.
6)Perkembangan memiliki tahap yang berurutan
Tahap perkembangan seorang anak memiliki pola yang teraturndan berurutan, dan
tahapan tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu
membuat lingkaran sebelum mampu gambar kotak, anak mampu berdiri sebelum
berjalan, dan sebagainya.
C.Stimulasi Tumbuh Kembang Anak
Sebelum mamahami tentang periode dan aspek perkembangan yang berlangsung
pada anak balita, maka penting dipahami beberapa prinsip tentang stimulai tumbuh
kembang. Stimulasi tumbuh kembang pada anak balita merupakan kegiatan
merangsang kemampuan dasar anak agar anak tumbuh kembang secara optimal.
Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada
setiap kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dilakukan oleh orang tua, yang
merupakan orang terdekat dengan anak, pengganti ibu atau pengasuh anak, anggota
keluarga lain dan orang dewasa lainnya. Kurangnya sti,ulasi dapat menyebabkan
penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap. Kemampuan
dasar anak yang dirangsang dengan stimulasi terarah adalah kemampuan gerak
kasar, kemampuan gerak motorik halus, kemampuan bicara dan bahasa serta
kemampuan sosialisasi dan kemandirian. Dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang anak, ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan yakni
1)Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang.
2)Selalu tujukkan sikap dan perilaku yang baik, karena anak akan meniru tingkah
laku orang-orang yang terdekat dengan anak.
3)Berikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur anak.
4)Lakukan stimulasi dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi, bervariasi
menyenangkan, tanpa paksaan dan tidak ada hukuman.
5)Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak, terhadap 4
(empat) aspek kemampuan dasar anak.
6)Gunakan alat bantu atau permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar anak.
7)Berikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan.
8)Berikan selalu pujian bila perlu hadiah atas keberhasilannya.
D.Periode dan Tahap Perkembangan Anak Menurut Umur dan Aspek Kemampuan
Perkembangan kemampuan dasar anak-anak berkorelasi dengan pertumbuhan.
Perkembangan kemampuan dasar mempunyain pola yang tetap dan berlangsung
secara berurutan. Oleh karenanya stimulasi yang diberikan kepada anak balita dalam
rangka merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dilakukan sesuai
dengan pembagian kelompok umur anak berikut ini:
No.
Periode Tumbuh Kembang
Kelompok Umur
1.
Masa prenatal, janin dalam kandungan
Masa Prenatal
2.
Masa bayi
Umur 0-12 bulan
3.
Masa anak balita
Umur 12-60 bulan (2-5 tahun)
4.
Masa pra sekolah
Umur 60-72 bulan (5-6 tahun)
1.Kemampuan Bayi (0 –12 bulan)
Pada masa bayi baru lahir (0 sampai 28 hari), terjadi adaptasi terhadap lingkungan
dan terjadi perubahan sirkulasi darah serta mulainya berfungsi organ-organ. Setelah
29 hari sampai dengan 11 bulan, terjadi proses pertumbuhan yang pesat dan proses
pematangan yang berlangsung secara terus menerus terutama meningkatnya fungsi
sistem syaraf.
Kemampuan yang dimiliki bayi meliputi;
a)Kemampuan Motorik
Kemampuan motorik merupakan sekumpulan kemampuan untuk menggunakan dan
mengontrol gerakan tubuh, baik gerakan kasar maupun gerakan halus. Motorik kasar
merupakan keterampilan menggerakkan bagian tubuh secara harmonis dan sangat
berperan untuk mencapai keseimbangan yang menunjang motorik halus. Motorik
halus merupakan keterampilan yang menyatu antara otot halus dan panca indera.
Kemampuan motorik selalu memerlukan koordinasi bagian-bagian tubuh, sehingga
latihan untuk aspek motorik ini perlu perhatian.
Kemampuan motorik pada bayi berdasarkan usia yakni:
Usia
Motorik kasar
Motorik halus
0-3 bulan
·mengangkat kepala,
·guling-guling,
·menahan kepala tetap tegak,
·melihat, meraih dan menendang mainan gantung,
·memperhatikan benda bergerak,
·melihat benda-benda kecil,
·memegang benda,
·meraba dan merasakan bentuk permukaan,
3-6 bulan
·menyangga berat,
·mengembangkan kontrol kepala.
·Duduk.
·memegang benda dengan kuat,
·Memegang benda dengan kedua tangan,
·makan sendiri,
·mengambil benda-benda kecil.
6-9 bulan
·merangkak
·menarik ke posisi berdiri
·berjalan berpegangan
·berjalan dengan bantuan.
·Memasukkan benda kedalam wadah,
·Bermain 'genderang'
·Memegang alat tulis dan mencoret-coret
·Bermain mainan yang mengapung di air
·Membuat bunyi-bunyian.
·Menyembunyikan dan mencari mainan
9-12 bulan
·bermain bola
·membungkuk
·berjalan sendiri
·naik tangga.
·Menyusun balok/kotak
·Menggambar
·Bermain di dapur.
b)Kemampuan Bicara dan Bahasa
Masa bayi adalah masa dimana kontak erat antara ibu dan anak terjalin sehingga
dalam masa ini, pengaruh ibu dalam mendidik anak sangat besar. Kemampuan bicara
bayi masih dalam bentuk pra bicara, yang diekspresikan dengan cara menangis,
mengoceh, gerakan isyarat dan ekspresi wajah seperti tersenyum. Bahkan pada masa
ini lebih sering muncul senyum sosial sebagai reaksi terhadap rangsangan dari luar .
Ekspresi emosi adalah bahasa pertama sebelum bayi berbicara, sebagai cara untuk
mengkomunikasikan dirinya pada orang tua atau orang lain. Bayi akan bereaksi pada
ekspresi wajah dan tekanan suara, sebaliknya orangtua membaca ekspresi bayi dan
merespon jika ekspresi bayi menunjukkan tertekan atau gembira. Terkait dengan
ekspresi emosi bayi, yang mudah dikondisikan, maka ekspresi emosi bayi mudah
dikondisikan. Jika orangtua lebih banyak menunjukkan suasana hati yang positif
seperti selalu gembira, santai dan menyenangkan, akan mempengaruhi pemahaman
bayi terhadap sesuatu dan cenderung menimbulkansuasana hati yang
menyenangkan. Sebaliknya jika orang dewasa mengkondisikan dengan situasi yang
tidak menyenangkan maka suasana emosi bayi cenderung buruk. Kemampuan bicara
pada bayi sebenarnya ada hubungannya dengan perkembangan otak, terutama pada
saat bayi menangkap kata-kata yang diucapkan dan menyampaikan apa yang ada
dalam pikirannya. Pada saat bayi berjalan, berbicara, tersenyum dan mengerutkan
dahi, sebenarnya tengah berlangsung perubahan dalam otak. Meski keterkaitan sel-sel
syaraf (neuron) yang dimiliki bayi, masih sangat lemah, namun akan sangat
mempengaruhi pada perkembangan sel syaraf pada tahap selanjutnya. Bayi mengerti
dan memahami sesuatu yang berada disekelilingnya, tidak terbatas dengan melihat
serta memanipulasi namun sebenarnya bayi sudah memiliki kemampuan untuk
memberi perhatian, menciptakan simbolisasi, meniru dan menangkap suatu konsep
melalui gerakan sudah lebih berkembang. Oleh karenanya untuk mengoptimalkan
kemampuan otaknya maka bayi perlu lebih banyak menstimulasi bayi untuk
mengenal benda-benda sekelilingnya sambil terus mengajak berbicara.
Kemampuan bicara dan berbahasa pada masa bayi sbb:
Usia
Kemampuan Bicara dan Bahasa
0-3 bulan
·prabicara,
·meniru suara-suara,
·mengenali berbagai suara.
3-6 bulan
·mencari sumber suara,
·menirukan kata-kata..
6-9 bulan
·menyebutkan nama gambar di buku majalah,
·menunjuk dan menyebutkan nama gambar-gambar.
9-12 bulan
·menirukan kata-kata
·berbicara dengan boneka
·bersenandung dan bernyanyi.
c)Kemampuan Sosialisasi dan Kemandirian
Kemampuan sosialisasi dan kemandirian dapat dirangsang dengan sosialisasi pada
masa bayi diawali di dalam keluarga, dimana dalam keluarga terjadi hubungan timbal
balik antara bayi dan pengasuh atau orangtua. Melalui perhatian dan perilaku
orangtua akan memberi kerangka pada bayi dalam berinteraksi dan pengalaman yang
terpenting bagi bayi karena keluarga adalah melibatkan proses kasih sayang.
Kemampuan bayi untuk bersosialisasi mulai muncul, dasar-dasar sosial mulai
dibentuk, yang diperoleh dengan cara mencontoh perilaku pada situasi sosial tertentu,
misalnya mencontoh perilaku sosial dari kakak atau orang tuanya, yang akhirnya
akan mempengaruhi cara penyesuaian pribadi dan sosialnya dikemudian hari.
Kemampuan sosialisasi dan kemandirian pada masa bayi sbb:
Usia
Kemampuan Sosialisasi dan Kemandirian
0-3 bulan
·memberi rasa aman dan kasih sayang,
·mengajak bayi tersenyum,
·mengajak bayi mengamati benda-benda dan keadaan di sekitarnya,
·meniru ocehan dan mimik muka bayi,
·mengayun bayi,
·menina bobokan.
3-6 bulan
·bermain "ciluk ba',
·melihat dirinya di kaca,
·berusaha meraih mainan.
6-9 bulan
·mulai bermain atau 'bersosialisasi' dengan orang lain.
·Mulai melambaikan tangan jika ditinggal pergi.
·Mulai membalas lambaian tangan orang lain.
9-12 bulan
·Minum sendiri dari sebuah cangkir,
·Makan bersama-sama
·Menarik mainan yang letaknya agak jauh.
2.Kemampuan Anak di Bawah Usia Lima Tahun (12 – 59 bulan)
Pada masa ini kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat kemajuan dalam
perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus) serta fungsi
eksresi/pembuangan. Periode penting dalam tumbuh kembang masa usia ini akan
mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada usia 3 tahun
pertama kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung;
dan tejadi pertumbuhan serabut-serabut syaraf dan cabang-cabangnya, sehingga
terbentuk jaringan syaraf dan otak yang kompleks. Jumlah dan pengaturan hubunganhubungan antar sel syaraf ini akan sangat mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf hingga bersosialisasi.
a)Kemampuan Motorik
Masa ini disebut sebagai masa sangat aktif dari seluruh masa kehidupannya, karena
tingkat aktivitasnya dan perkembangan otot besar mereka sedang tumbuh. Demikian
halnya dengan kemampuan motorik halus anak, sudah mulai meningkat dan menjadi
lebih tepat pada saat berusia 5 tahun. Koordinasi tangan, lengan dan tubuh dapat
bergerak bersama dibawah koordinasi yang lebih baik daripada mata.
Dengan demikian masa ini disebut juga sebagai masa belajar berbagai kemampuan
dan keterampilan, dengan berbekal rasa ingin tahu yang cukup kuat dengan seringnya
anak mencoba hal-hal baru dan seringnya pengulangan menyebabkan masa ini
menjadi masa yang tepat untuk mempelajari keterampilan baru.
Kemampuan motorik yang dimiliki anak sbb;
Usia Gerak Kasar Gerak Halus
12-15
bulan
·Berjalan tanpa pegangan sambil
menarik mainan yang bersuara,
·Berjalan mundur,
·Berjalan naik dan turun tangga,
·Berjalan sambil berjinjit
·Menangkap dan melempar bola
·Bermainan balok dan menyusun balok.
·Memasukkan dan mengeluarkan benda
kedalam wadah.
·Memasukkan benda yang satu ke benda
lainnya.
15-18
bulan
·Bermain di luar rumah.
·Bermain air
·Menendang bola.
·Meniup ,
·Membuat untaian.
18-24
bulan
·Melompat,
·Melatih keseimbangan tubuh,
·Mendorong mainan dengan kaki.
·Mengenal berbagai ukuran dan bentuk,
·Bermain puzzle,
·Menggambar wajah atau bentuk,
·Membuat berbagai bentuk dari adonan
kue/lilin mainan.
24-36
bulan
·Latihan menghadapi rintangan,
·Melompat jauh,
·Melempar dan menangkap bola
besar.
·Membuat gambar tempelan,
·Memilih dan mengelompokkan bendabenda
menurut jenisnya,
·Mencocokan gambar dan benda,
·Konsep jumlah,
·Bermain/menyusun balok-balok.
36-48
bulan
·Menangkap bola kecil dan
melemparkan kembali.
·Berjalan mengikuti garis lurus,
·Melompat dengan satu kaki,
·Melempar benda-benda kecil ke atas,
·Menirukan binatang berjalan,
·Berjalan jinjit secara bergantian.
·Memotong dengan menggunakan
gunting,
·Menempel guntingan gambar sesuai
dengan cerita.
·Menempel gambar pada karton.
·Belajar 'menjahit' dengan tali rafia.
·Menggambar/menulis garis lurus,
bulatan,segi empat, huruf dan angka.
·Menghitung lebih dari 2 atau 3 angka.
·Menggambar dengan jari, memakai cat,
·Mengenal campuran warna dengan cat
air,
·Mengenal bentuk dengan menempel
potongan bentuk.
·Mengenal konsep "separuh atau satu"
48-60
bulan
·Lomba karung
·Main engklek
·Melompat tali.
·Menggambar dan atau melengkapi
gambar,
·Menghitung benda-benda kecil dan
mencocokkan dengan angka.
·Menggunting kertas (sudah dilipat)
dengan gunting tumpul,
·Membandingkan besar/kecil,
banyak/sedikit, berat/ringan.
·Belajar 'percobaan ilmiah'
·Berkebun.
b)Kemampuan Bicara dan Bahasa
Bertambahnya kematangan otak dikombinasikan dengan peluang-peluang untuk
menjelajahi dunia sekelilingnya dan sebagai penyumbang terbesar untuk lahirnya
kemampuan kognitif anak. Sejumlah kemampuan anak, seperti belajar membaca
adalah berkaitan dengan masukan dari mata anak yang ditransmisikan ke otak anak,
kemudian melalui sistem yang ada di otak, menterjemahkannya kedalam kode hurufhuruf,
kata-kata dan asosiasinya. Akhirnya akan dikeluarkan dalam bentuk bicara.
Bakat bicara anak karena sistem otak diorganisasikan sedemikian rupa sehingga
memungkinkan anak memproses sebagai bahasa.
Anak mulai pandai berbicara, sejalan dengan perkembangannya memahami sesuatu.
Biasanya anak mulai berbicara sendiri, kemudian berkembang menjadi kemampuan
untuk bertindak tanpa harus mengucapkannya. Dalam hal ini anak telah
menginternalisasikan pembicaraan yang egocentris dalam bentuk berbicara sendiri
menjadi pemikiran anak. Hal ini merupakan suatu transisi awal untuk dapat lebih
berkomunikasi secara sosial.
Usia
Kemampuan Bicara dan Bahasa
12-15 bulan
·Membuat suara dari dari barang2 yang dipilihnya,
·Menyebut nama bagian tubuh,
·Melakukan pembicaraan.,
15-18 bulan
·Bercerita tentang gambar di buku/majalah,
·Permainan telepon-teleponan,
·Menyebut berbagai nama barang.
18-24 bulan
·Melihat acara televisi,
·Mengerjakan perintah sederhana,
·Bercerita tentang apa yang dilihatnya.
24-36 bulan
·Menyebut nama lengkap anak,
·Bercerita tentang diri anak,
·Menyebut berbagi jenis pakaian.
·Menyatakan keadaan suatu benda.
36-48 bulan
·Berbicara dengan anak,
·Bercerita mengenai dirinya,
·Bercerita melalui album foto,
·Mengenal huruf besar menurut alfabet di koran/majalah.
48-60 bulan
·Belajar mengingat-ingat,
·Mengenal huruf dan simbol,
·Mengenal angka,
·Membaca majalah,
·Mengenal musim,
·Mengumpulkan foto kegiatan keluarga,
·Mengenal dan mencintai buku,
·Melengkapi dan menyelesaikan kalimat,
·Menceritakan masa kecil anak,
·Membantu pekerjaan di dapur.
c)Kemampuan Bersosialisasi dan Kemandirian
Dasar-dasar sosialisasi yang sudah diletakkan pada masa bayi, maka pada masa ini
mulai berkembang. Dalam hal ini hubungan keluarga, orangtua-anak, antar saudara
dan hubungan dengan sanak keluarga cukup berperan. Pengasuhan pada tahun
pertama berpusat pada perawatan, berubah ke arah kegiatan-kegiatan seperti
permainan, pembicaraan dan pemberian disiplin, akhirnya mengajak anak untuk
menalar terhadap sesuatu. Pada masa ini sebagai masa bermain, anak mulai
melibatkan teman sebayanya, melalui bermain, meski interaksi yang dibangun dalam
permainan bukan bersifat sosial, namun sebagai kegiatan untuk menyenangkan dan
dilaksanakan untuk kegiatan itu sendiri. Jenis permainan yang dilakukan bisa
berbentuk konstruktif, permainan pura-pura, permainan sensori motorik, permainan
sosial atau melibatkan orang lain, games atau berkompetisi.
Usia
Kemampuan Bersosialisasi dan Kemandirian
12-15 bulan
·Menirukan pekerjaan rumah tangga,
·Melepas pakaian,
·Makan sendiri,
·Merawat mainan,
·Pergi ke tempat-tempat umum.
15-18 bulan
·Belajar memeluk dan mencium,
·Membereskan mainan/membantu kegiatan di rumah,
·Bermain dengan teman sebaya,
·Permainan baru,
·Bermain petak umpet.
18-24 bulan
·Mengancingkan kancing baju,
·Permainan yang memerlukan interkasi dengan teman bermain.
·Membuat rumah-rumahan,
·Berpakaian,
·Memisahkan diri dengan anak.
24-36 bulan
·Melatih buang air kecil dan buang air besar di WC/kamar mandi.
·Berdandan/memilih pakaian sendiri.
·Berpakaian sendiri.
36-48 bulan
·Mengancingkan kancing tarik,
·Makan pakai sendok garpu,
·Membantu memasak,
·Mencuci tangan dan kaki,
·Mengenal aturan/batasan.
48-60 bulan
·Membentuk kemandirian dengan memberi kesempatan mengunjungi temannya
tanpa ditemani.
·Membuat atau menempel foto keluarga,
·Membuat mainan/boneka dari kertas.
·Menggambar orang,
·Mengikuti aturan permainan/petunjuk,
·Bermain kreatif dengan teman-temannya,
·Bermain 'berjualan dan berbelanja di toko"
3.Masa Anak Pra Sekolah (usia 60-72 bulan atau 5-6 tahun);
Pada masa ini, pertumbuhan berlangsung dengan stabil, aktivitas jasmani semakin
bertambah dan meiningkatnya keterampilan dan proses berpikir. Anak mulai
menunjukkan keinginannya seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya.
Pada masa ini, anak mulai diperkenalkan dengan lingkungan luar selain lingkungan
dalam rumah, sehingga anak mulai senang bermain di luar rumah. Anak mulai
berteman bahkan anak banyak keluarga menghabiskan waktunya bermain di luar
rumah, seperti bermain di taman atau ke tempat-tempat yang menyediakan fasilitas
bermain anak.
Pada masa ini anak dipersiapkan untuk sekolah, oleh karenanya panca indera dan
sistim reseptor penerima rangsangan serta proses memori harus sudah siap sehingga
anak mampu belajar dengan baik. Proses belajar yang tepat bagi usia ini adalah
dengan cara bermain.
Kemampuan yang dimiliki pada anak pra sekolah adalah sbb:
Kemampuan
Keterangan
Gerak kasar
·bermain bola dengan teman sebayanya
·naik sepeda, bermain sepatu roda.
Gerak halus
·mengerti urutan kegiatan,
·berlatih mengingat-ingat,
·membuat sesuatu dari tanah liat/lilin,
·bermain "berjualan",
·belajar bertukang, memakai pali, gergaji dan paku,
·mengumpulkan benda-benda,
·belajar memasak,
·mengenal kalender
·mengenal waktu,
·menggambar dari berbagai sudut pandang,
·belajar mengukur.
Bicara dan bahasa
·mengenal benda yang serupa dan berbeda,
·bermain tebak-tebakan,
·berlatih mengingat-ingat,
·menjawab pertanyaan "mengapa ?"
·menganal rambut/tanda lalu lintas,
·mengenal uang logam,
·mengamati/meneliti keadaan sekitar.
Bersosialisasi dan kemandirian.
·Berkomunikasi dengan anak,
·Berteman dan bergaul,
·Mematuhi peraturan keluarga
E.KECERDASAN JAMAK
Kemampuan anak balita dapat bekembang optimal apabila anak mampu
mengembangkan kecerdasan jamak . Maksud kecerdasan disini tidak terbatas pada
kemampuan anak yang terkait dengan kepandaian dengan prestasi akademik namun
mencakup kemampuan lain yang terkait dengan semua bagian otak manusia. Hal ini
dapat diwujudkan melalui kemampuan anak dalam berbicara, bermain dengan
hitung-hitungan, berimajinasi dengan warna dan bentuk, mengekspresikan diri
melalui gerakan, menangkap bunyi dan mengekspresikannya, kemampuan untuk
bergaul dengan orang lain, kemampuan mengolah perasaan atau bnerkesenian,
kemampuan mencintai alam dan lingkungan lebih luas lagi, seperti pada pemahaman
alam semesta. Menurut Howard Gardner (2002), kecerdasan jamak dapat diuraikan
menjadi 9 kecerdasan, yaitu:
1.Kecerdasan Bahasa (verbal-linguistik)
Kecerdasan bahasa atau verbal-linguistik berkaitan erat dengan kata-kata, baik lisan
maupun tertulis beserta dengan aturan-aturannya. Anak-anak yang memiliki
kecerdasan bahasa menyukai kegiatan bermain yang memfasilitasi kebutuhan mereka
untuk berbicara, bernegosiasi dan mengekspresikan perasaan. Anak yang cerdas
dalam bahasa juga memiliki ketrampilan menyimak yang baik, dan memiliki minat
terhadap buku.
Cara belajar terbaik bagi mereka yang memiliki kecerdasan verba-linguistik adalah
dengan mengucapkan, mendengarkan, dan melihat tulisan. Cara terbaik memotivasi
mereka adalah dengan mengajak berbicara, menyediakan banyak waktu, rekaman,
serta member peluang untuk menulis.
Pengasuh perlu menyediakan peralatan membuat tulisan, menyediakan tape recorder,
sering mendongeng dan melakukan Tanya jawab. Menurut Gardner kecerdasan
linguistic terletak pada otak bagian kiri dan lobus bagian depan.
2.Kecerdasan Logiko-Matematik
Kecerdasan Logiko-Matematik berkaitan dengan kemampuan mengolah angka dan
atau kemahiran menggunakan logika. Anak-anak yang memiliki kelebihan dalam
kecerdasan ini tertarik memanipulasi lingkungan serta cenderung suka menerapkan
strategi coba-ralat. Mereka suka bermain yang berkaitan dengan berpikir logis seperti
mencari jejak (maze), menghitung benda-benda, timbang-menimbang dan permainan
strategi.
Kecerdasan logiko-matematika terletak di otak depan sebelah kiri dan parietal kanan. Kecerdasan ini dilambangkan dengan terutama dengan angka-angka dan lambang matematika lain. Pengasuh dapat menstimulasi anak dengan memberikan materi-materi konkrit yang dapat dijadikan bahan percobaan, seperti permainan mencampur warna, permainan aduk-garam, aduk-pasir, dan melalui interaksi positif yang mampu memuaskan rasa ingin tahu anak. Menurut Gardner kecerdasan logiko-matematika terletak pada otak
bagian kiri dan lobus bagian depan.
3.Kecerdasan Visual-Spasial
Kecerdasan visual-spasial berkaitan dengan kemampuan menangkap warna, dan
ruang secara akurat serta mengubah penangkapannya tersebut ke dalam bentuk lain
seperti dekorasi, arsitektur, lukisan, dan patung.
Anak yang memiliki kecerdasan visual-spasial memiliki kepekaan terhadap warna,
garis-garis, bentuk-bentuk, ruang, dan bangunan, suka mencoret-coret, membentuk
gambar, mewarnai dan menyusun unsur-unsur bangunan seperti puzzle dan balokbalok.
Anak yang cerdas dalam visual-spasial dapat mempergunakan apapun untuk
membentuk sesuatu yang bermakna baginya.
Pengasuh dapat merangsang kecerdasan ini melalui berbagai program seperti
melukis, membentuk sesuatu dengan plastisin, mengecap dan menyusun potongan
gambar. Perlu disediakan berbagai fasilitas yang memungkinkan anak
mengembangkan daya imajinasi mereka seperti permainan konstruktif, balok-balok
bentuk geometri berbagai warna dan ukuran, peralatan menggambar, pewarna, alatalat
dekoratif dan berbagai buku gambar. Menurut Gardner kecerdasan visual-spasial
mempunyai lokasi di otak bagian belakang hemisfer kanan.
4.Kecerdasan Kinestetik
Kecerdasan gerak-kinestetik berkaitan dengan kemampuan menggunakan gerak
seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaannya serta keterampilan
mempergunakan tangan untuk mencipta atau mengubah sesuatu. Kemampuan ini
meliputi kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan,
keterampilan, kekuatan, kelenturan, kecepatan dan keakuratan menerima rangsang,
sentuhan dan tekstur.
Anak yang cerdas dalam gerak-kinestetik terlihat menonjol dalam kemampuan fisik
(terlihat lebih kuat, lebih lincah), cenderung suka bergerak, tidak bisa duduk diam
berlama-lama, mengetuk-ngetuk sesuatu, suka meniru gerak atau tingkah laku orang
lain yang menarik perhatiannya dan senang beraktivitas yang mengandalkan
kekuatan gerak seperti memanjat, berlari, melompat dan berguling.
Pengasuh dapat memfasilitasi anak-anak yang memiliki kecerdasan ini dengan
memberi kesempatan pada mereka untuk bergerak. Penyediaan kondisi belajar harus
dirancang supaya anak dapat leluasa bergerak dan memberi peluang untuk
mengaktualisasikan dirinya secara bebas. Dapat dilakukan di luar ruangan seperti
meniti titian, berjalan satu kaki, senam irama, merayap dan lari jangka pendek.
Kecerdasan gerak kinestetik mempunyai lokasi di otak serebelum (otak kecil), basal
ganglia (otak keseimbangan) dan motor korteks.
5.Kecerdasan Musikal
Kecerdasan musikal berkaitan dengan kemampuan menangkap bunyi-bunyi,
membedakan, menggubah, dan mengekspresikan diri melalui bunyi-bunyi atau suarasuara
yang bernada dan berirama. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada irama,
melodi, dan warna suara.
Anak yang cerdas dalam musikal cenderung cepat menghafal lagu-lagu dan
bersemangat ketika kepadanya diperkenalkan lagu. Anak-anak yang memiliki
kecerdasan musical suka menyanyi, bersenandung atau bersiul. Hampir semua anak
memiliki kecerdasan ini.
Pengasuh perlu memfasilitasi anak agar dapat berekspresi musikal melalui salam
berirama, deklamasi, menyanyi bersama, tepuk bernada, dan bila mungkin dengan
orkesrta kaleng bekas. Jika mendapat stimulasi yang tepat, kemampuan music anak
akan terasah dan berkembang. Kecerdasan musical merupakan kecerdasan yang
tumbuh paling awal dan mampu bertahan hingga usia tua. Kecerdasan ini
mempunyai lokasi di otak kanan.
6.Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal melibatkan kemampuan untuk memahami dan bekerja
sama dengan orang lain. Kecerdasan ini melibatkan banyak kecakapan, yakni
kemampuan berempati pada orang lain, kemampuan mengorganisasi sekelompok
orang menuju ke tujuan suatu tujuan bersama, kemampuan mengenali dan membaca
pikiran orang lain, kemampuan berteman atau menjalin kontak.
Anak yang memiliki kecerdasan interpersonal cenderung mudah memahami perasaan
orang lain, mereka sering menjadi pemimpin di antara teman-temannya. Mereka
pandai mengorganisasi teman-teman dan pandai mengkomunikasikan keinginannya
pada orang lain. Mereka mempunyai banyak teman, mudah bersosialisasi serta
senang terlibat dalam kegiatan kelompok.
Pengasuh perlu memfasilitasi kecerdasan interpersonal ini melalui pemberian
kesempatan untuk berteman/bersosialisasi dan menjadi pemimpin di kelompoknya
atau diantara teman-temannya. Kecerdasan ini terletak terutama pada hemisfer
kanan dan sistem limbik, dan kecerdasan ini dipengaruhi oleh kualitas kedekatan atau
ikatan kasih sayang selama masa kritis tiga tahun pertama, dan oleh interaksi social.
7.Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan Intrapersonal berkaitan dengan aspek internal dalam diri seseorang,
seperti: perasaan hidup, rentang emosi, kemampuan untuk membedakan ragam
emosi, menandainya, menggunakannya untuk memahami dan membimbing tingkah
laku sendiri. Anak dengan kecerdasan intrapersonal yang baik terlihat lebih mandiri, memiliki kemauan keras, penuh percaya diri, memiliki tujuan-tujuan tertentu. Awal masa anakanak merupakan saat yang menentukan bagi perkembangan intrapersonal. Mereka yang memperoleh kasih sayang, pengakuan, dorongan, dan tokoh panutan cenderung mampu mengembangkan konsep diri yang positif dan mampu membentuk citra diri sejati. Pengasuh perlu menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak. Perlu dikembangkan model-model permainan yang memperkenalkan berbagai emosi dan perasaan, serta identifikasi diri yang sebenarnya. Kecerdasan intrapersonal
mempunyai tempat di otak bagian depan. Kerusakan otak bagian ini kemungkinan
akan menyebabkan orang mudah tersinggung, sementara kerusakan di bagian lebih
atas kemungkinan besar akan menyebabkan sikap acuh tak acuh, enggan, lesu,
lamban, apatis. Anak autis adalah salah satu contoh anak yang cacat dalam
kecerdasan intrapersonal.
8.Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan naturalis berkaitan dengan kemahiran dalam mengenali dan
mengklasifikasikan flora dan fauna dalam lingkungannya, berkaitan pula dengan
kecintaan seseorang pada benda-benda alam, binatang dan tumbuhan. Kecerdasan ini
ditandai dengan kepekaan terhadap bentuk-bentuk alam, seperti daun-daunan, awan,
batu-batuan.
Anak yang memiliki kecerdasan naturalis cenderung menyukai alam terbuka, akrab
dengan hewan peliharaan. Mereka memiliki keingintahuan yang besar tentang selukbeluk
hewan dan tumbuhan (Armstrong, 2002).
Pengasuh dapat menyediakan kondisi dengan cara mengajak anak-anak untuk
menikmati dan mengamati alam terbuka, menyediakan materi-materi seperti:
membiasakan menyiram tanaman, menanam biji-bijian dan mengamati
pertumbuhannya, menciptakan permainan dan program pembelajaran yang
berkaitan dengan unsur-unsur alam seperti: membandingkan berbagai bentuk daun
dan bunga-bungaan, mengamati perbedaan tekstur pasir, tanah, kerikil, biji-bijian dan
menirukan karakteristik binatang. Pengasuh dapat pula menyediakan buku-buku
yang memuat seluk-beluk hewan, alam, dan tumbuhan dengan gambar-gambar yang
menarik. Melakukan kegiatan eksperimen, investigasi, menemukan fenomena alam,
pola cuaca dan lain-lain. Kecerdasan naturalis berada di wilayah-wilayah parietal kiri,
berkaitan juga dengan wilayah otak yang peka terhadap sensori persepsi dan otak
bagian kiri.
9.Kecerdasan Eksistensial
Kecerdasan eksistensial berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk
menempatkan diri dalam lingkup kosmos yang terjauh, dengan makna hidup, makna
kematian, nasib dunia jasmani maupun rohani dan dengan makna pengalaman
mendalam seperti cinta atau kesenian. Juga berkaitan dengan kemampuan
merasakan, memimpikan, dan menjadi pemikir yang menyangkut hal-hal yang besar.
Anak yang memiliki kelebihan kecerdasan eksistensial cenderung memiliki kesadaran
akan hakikat sesuatu. Banyak pertanyaan muncul dari mereka mengenai berbagai hal
yang mungkin tidak terpikirkan oleh anak lain sebayanya.
Stimulasi untuk kecerdasan ini mungkin tidak mudah dilakukan oleh pengasuh, tetapi
pengasuh dapat memberikan tugas untuk merenungkan sesuatu yang ada di sekitar
anak, bercerita yang diakhiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah
kesadaran, seperti: "Bagaimana jika tidak mempunyai Ibu"? "Bagaimana jika tidak ada
air"? dan lain sebagainya
F.Kebutuhan Anak Balita
Setiap anak yang dilahirkan membawa sejumlah potensi. Potensi tersebut akan dapat
berkembang secara optimal apabila dikembangkan sejak dini melalui pemenuhan
kebutuhan kesehatan, gizi yang memadai, layanan pengasuhan yang tepat.
Upaya pembinaan tumbuh kembang anak dirahkan untuk meningkatkan kesehatan
fisik, mental, dan emosional dan sosial anak. Upaya tersebut dilakukan sedini
mungkin sejak di dalam kandungan dengan perhatian khusus pada bayi dan anak
balita yang merupakan masa kritis dan masa emas bagi kelangsungan tumbuh
kembang anak.
Secara umum kebutuhan anak balita terbagi pada 2 bagian yaitu (1) kebutuhan fisik
seperti kebutuhan untuk hidup: fisiologis, makan, minum, dan istirahat. (2) kebutuhan
psikologis yaitu rasa aman, nyaman, disayang, serta diperhatikan, sehingga anak tumbuh percaya diri dan bangga akan kemampuan dirinya. (3) perlakuan yang salah
(4) tindakan yang dapat dilakukan. (5)
1.Kebutuhan Fisik Anak Balita
Kebutuhan fisik anak balita menurut rentang usia dapat dilihat dari matriks berikut
ini:
NO
SIKLUS/
USIA ANAK
KEBUTUHAN
ESSENSIAL
JENIS LAYANAN
1
Janin dalam
kandungan sampai
lahir
·Asupan gizi
seimbang
·Pemberian makanan bergizi seimbang
·Suplementasi gizi mikro
·Janin tumbuh
kembang secara
normal
Pelayanan pemeriksaan kehamilan
Stimulasi janin dalam kandungan
Penyuluhan tentang konsep diri ibu hamil
·Pencegahan dan
pengobatan
penyakit
·Imunisasi TT
·Pencegahan penyakit menular lainnya
·Pengobatan
·Asuhan
persalinan
Pertolongan persalinan
5. Asuhan bayi
baru lahir
1.Pencatatan berat dan panjang lahir.
2. Manajemen terpadu bayi muda (MTBM)
a.l:
·Pemeriksaan kesehatan
·Penanganan penyakit
·Injeksi vitamin K1
·Pemberian salep mata
·Perawatan tali pusar
- Menjaga bayi tetap hangat
1.Asupan gizi
seimbang
·Inisiasi menyusui dini
·Pemberian ASI ekslusif
·Pemberian makanan bergizi seimbang
bagi ibu
·Suplementasi gizi mikro bagi ibu
2 Bayi 0-28 hari
2. Asuhan bayi
baru lahir
·Pencatatan berat dan panjang lahir
·Manajemen terpadu bayi muda (MTBM)
yang mencakup antara lain:
oPemeriksaan kesehatan
oPenanganan penyakit
oInjeksi vitamin K1
oPemberian salep mata
oPerawatan tali pusar
oMenjaga bayi tetap hangat
3.Pencegahan
penyakit
Pemberian Imunisasi
4.Tumbuh
kembang normal
Stimulasi tumbuh kembang
5. Akte kelahiran
Pencatatan kelahiran & penerbitan akte
kelahiran
3 Bayi 1 – 24 bulan
1.Asupan gizi
seimbang
Pemberian ASI ekslusif untuk bayi usia 1-
6 bulan
Pemberian makanan bergizi dan
Suplementasi gizi makro kepada ibu
Pemberian ASI untuk usia 6-24 bulan
Pemberian makanan pendamping ASI
(MP-ASI) mulai usia 6 bulan
Pemberian makanan keluarga bergizi
seimbang untuk anak usia 1 tahun keatas
Pemberian zat gizi mikro mulai usia 6
bulan
2. Tumbuh
kembang normal
Penimbangan setiap bulan
Stimulasi dini
Penyuluhan stimulasi tumbuh kembang
bagi ibu, keluarga, dan pengasuh lainnya
Deteksi dan intervensi dini tumbuh
kembang (DIDTK)
1.Pencegahan dan
pengobatan
penyakit
Imunisasi lengkap sebelum usia 1 tahun
Manajemen terpadu balita sakit (MTBS)
Perawatan balita gizi buruk
Pencegahan penyakit menular.
·Asupan gizi
Pemberian makanan dengan gizi
seimbang (family food)
4 Anak 2-6 tahun
seimbang Fortifikasi /suplementasi zat gizi mikro
sampai usia 5 tahun
·Tumbuh
kembang normal
Penimbangan balita setiap bulan sampai
usia 5 tahun
Stimulasi dini
Penyuluhan stimulasi tumbuh kembang
bagi ibu, keluarga, dan pengasuh lainnya
Deteksi dan intervensi dini tumbuh
kembang (DIDTK)
·Pencegahan dan
pengobatan
penyakit
Imunisasi booster
Manajemen terpadu balita sakit (MTBS)
Perawatan balita gizi buruk
Pencegahan penyakit menular lainnya
·Pengembangan
kecerdasan
jamak:
oVerbal/bahasa
oMatematik/logika
oSpasial
oKinestetik
oMusik
oInterpersonal
oIntrapersonal
oNaturalis
oSpiritual
Pendidikan dini melalui pemberian
rangsangan pendidikan sesuai tahap
perkembangan dan potensi anak
mencakup:
·Pengembangan sensori motor,
·Pengembangan main peran,
·pengembangan main pembangunan.
·Bimbingan keagamaan sesuai sesuai usia
anak.
- Bimbingan belajar sambil bermain bagi
anak usia 3 – 4 tahun untuk memenuhi
hak anak atas pendidikan.
Janin sampai 6 tahun
yang mempunyai
kebutuhan khusus
·Penerimaan dan
kasih sayang
·Pemeliharaan
dan perawatan.
·Asuhan,
bimbingan,
didikan dan
pembinaan
- perlindungan
Pemeliharaan, perawatan, bimbingan,
pendidikan, pembinaan dan perlindungan
Sesuai kebutuhan khususnya
2.Kebutuhan Psikologis Anak Balita
Kebutuhan psikososial anak balita, yang dapat dilakukan orang tua atau pengasuh
dapat mempengaruhi optimalisasi tumbuh kembang anak balita. Perilaku orang tua
atau orang dewasa lainnya yang perlu diperhatikan, yakni:
a)Akrab
Sejak anak masih dalam kandungan, orang tua harus menjalin akrab dengan anak,
demikian halnya setelah anak mencapai balita, pengasuh atau pembimbing harus
menjalin akrab dengan anak. Keakraban ini penting untuk memberikan rasa nyaman
dan aman yang diperlukan anak untuk mengeksplorasikan lingkungannya. Tanpa rasa
nyaman dan aman, anak akan menarik diri dari dunianya. Anak menjadi tidak
terbuka dengan pengalaman dan kesempatan-kesempatan belajar, dimana hal ini
akan dibawanya sampai meninggal.
b)Disiplin
Disiplin tidak ada hubungan dengan hukuman dan aturan yang kaku. Disiplin lebih
terkait dengan kebiasaan hidup teratur dan kebiasaan ini harus dimulai dari orang
tua. Anak menyukai keteraturan dan rutinitas dan ini penting untuk membentuk pola
kebiasaan, termasuk kedisiplinan. Kebiasaan hidup teratur dapat dilakuak melaui;
kebiasaan mengembalikan barang ke tempatnya semula, membereskan mainan,
merapikan meja setelah dipergunakan dsb.
c)Hindari Kekerasan.
Marah kepada anak tanpa alasan yang dapat dipahami oleh anak sudah merupakan
salah satu bentuik kekerasan. Menghukum baik fisik maupun mental termasuk
memukul, mendiamkan anak, memasang muka cemberut, hanya akan membuat anak
kehilangan percaya diri dan lebih jauh lagi anak akan kehilangan harga diri.
d)Toleransi
Bertoleransi terhadap kesalahan anak, bukan kebalikan dari disiplin. Kesalahan yang
dilakukan anak sering kali hanya karena perbedaan pandang kita sebagai orang tua
atau orang dewasa dengan cara pandang anak. Menghargai perbedaan perlu
dikenalkan pada saat anak mulai dapat berbicara dan bermain dengan teman
sebayanya. Konflik yang sering terjadi karena kita tidak bisa menghargai perbedaan.
Hal terkecil tetapi penting untuk dilakukan orangtua adalah mendengarkan dan
menghargai pendapat anak.
e)Menjadi Motivator.
Anak tidak sekedar mencontoh dan anak tidak hanya membutuhkan keteladanan
orangtua. Dorongan atau motivasi sering lebih penting daripada ajakan. Terlebih pada
usia setahun, saat anak memerlukan kemampuan untuk mengontrol dirinya, motivasi
berperan penting agar kelak tidak menjadi anak yang pemalu atau peragu. Dorongan
orang tua akan muncul dengan sendirinya jika orangtua atau pengasuh sering
mendampingi atau memfasilitasi kegiatan bermain anak. Tentu saja dorongan untuk
mendikte yang sering muncul tanpa kita sadari harus benar-benar kita hindari.
G.Perlakuan Salah yang Sering Ditemukan
Dalam memperlakuan anak balita, sering tidak disadari pengasuh atau orang tua,
melakukan kesalahan dalam memperlakukan anak balita. Kesalahan perlakuan yang
sering ditemukan meliputi:
1.Selalu Mencari Aman.
Melarang anak dan mengatakan "JANGAN" kepada anak merupakan perwujudan
keinginan orang tua. Larangan hanya akan membuat anak nekad melakukan
kesalahan dan kesalahan yang lebih besar lagi dikemudian hari. Informasi yang tepat
berguna bagi anak daripada melarang anak untuk melakukan sesuatu.
2.Mengambil Alih Tugas Anak.
Ketidaksabaran dan keinginan untuk selalu mencari aman membuat orangtua tidak
pernah memberikan tugas kepada anak dan bahkan mengambil alih tugas anak yang
diberikan oleh gurunya atau orang lain. Keinginan oprang tua untuk menunjukkan
bahwa anak tidak mengenal dan bahkan lari dari tanggung jawab. Anak tidak dapat
dan tidak terbiasa menyelesaikan tugas, disamping anak juga tidak berkesempatan
untuk mandiri.
3.Terlalu Berharap.
Adalah keinginan orang tua semata agar anaknya hafal nama-nama kepala negara
seluiruh dunia pada usia 2 tahun atau pula anaknya menjadi rangking pertama di
sekolahnya. Lebih parah lagi cukup banyak orang tua yang mendiktekan masa depan
anak karena dirinya gagal mencapai cita-cita. Harapan yang berlebihan tidak hanya
membuat anak tertekan tetapi juga akan menghantam balik akibatnya pada orang tua.
4.Menyerahkan Kepada Orang Lain.
Kurangnya berkomunikasi dengan anak diperburuk dengan mudahnya orang tua
menyerahkan begitu saja pengasuhan dan pendidikan anak kepada pengasuh, guru
atau orang lain. Meski alasan ekonomi sering melatarbelakangi hal ini, namun
kepedulian orang tua pada anak harus menjadi prioritas. Ketidakpedulian orangtua
terhadap aktivitas sehari-hari anak dapat mengejutkan orang tua pada saat anak
melakukan sesuatu yang tidak diinginkan orang tua.
5.Memberi Contoh Salah
Banyak orang tua yang tidak sadar akan perbuatan atau kebiasaan yang tidak baik
seperti merokok, mabuk dan berbohong. Sering pula orangtua tidak sadar
mengajarkan berbohong atau perilaku tidak baik lainnya kepada anak. Orang tua
sebagai model atas perbuatan dan kebiasaan yang akan ditiru anak.
6.Melakukan Kekerasan
Kesalahan yang semuanya bersumber dari kesalahan orangtua, cepat atau lambat
akan dilakukan anak tanpa sengaja. Ujungnya bukan orangtua introspeksi diri,
bahkan sebaliknya yang dilakukan orangtua. Mulai dari memasang muka masam,
menimpakan kesalahan kepada anak sampai kepada kekerasan fisik dilakukan orang
tua bahkan sampai menghilangkan nyawa anak.
H.Tindakan yang Dapat Dilakukan
Untuk menghindari kesalahan dari perlakuan orang tua atau pengasuh maka
beberapa tindakan berikut ini, perlu dilakukan ;
1.Perlakukan Anak sebagai Anak
Banyak orang tua atau pengasuh melihat dan memperlakukan anak sebagai orang
dewasa kecil, bukan sebagai seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang untuk
kemudian menjadi dewasa. Karena itu orang tua atau pengasuh jangan beranggapan
bahwa anak dapat berpikir dan bertindak seperti orang dewasa. Anak suka
mengulang-ulang kegiatannya, memusatkan perhatian untuk waktu yang pendek,
suka melakukan percobaan dan banyak kegiatan lain yang menurut pandangan orang
dewasa sebagai kegiatan yang tidak bermanfaat dan membosankan.
2.Penuhi Kebutuhan Anak
Anak memiliki banyak kebutuhan, mulai dari kebutuhan makanan dengan gizi yang
berimbang, lingkungan yang sehat dan aman, rasa aman, kondisi kesehatan yang
prima, perasaan "diterima", kebutuhan unuk mengembangkan potensi diri,
pengakuan atas harga diri mereka. Tidak terpenuhinya salah satu kebutuhan anak
dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. Memenuhi
kebutuhan anak tidak sama dengan memanjakan anak.
3.Beri Anak Kesempatan
Menerima anak sebagaimana ia adanya bukan hal yang mudah. Rasa takut
"kehilangan" anak yang selama ini menggantungkan hidupnya kepada kita
merupakan cara dari ketidakmauan orang tua atau pengasuh untuk memberi
kesempatan kepada anak mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Beri
kesempatan anak untuk mandiri, kesempatan untuk melakukan beragam kegiatan
yang diperlukan dalam mengembangkan seluruh potensinya sesuai dengan tahapan
perkembangannya. Orang tua atau pengasuh adalah fasilitator, pendidik, pelindung
dan juga pengawas.
4.Bimbing Anak Untuk Membawa Diri
Selama hidupnya manusia selalu berhubungan dengan orang lain. Demikian halnya
anak, pertama-tama akan menjalin hubungan dengan orang tua dan anggota keluarga
lainnya, kemudian dengan tetangga, saudara, teman sebaya dan selanjutnya akan
semakin memperluas pergaulan. Dalam pergaulan dimanan pun berada, selalu ada
aturan atau etika serta sopan santun. Dengan memahmi etiket pergaulan akan
memupuk kemampuan membawa diri dan menuntunnya kelak menjadi manusia
yang sukses. Oleh karenanya, ajarkan bagaimana anak harus bersikap kepada orang
lain, tata cara bersalaman, memberi salam saat bertemu serta beragam etika
kesopanan lainnya sejak dini yang dapat dilakukan mulai dari dalam keluarga.
5.Tumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak
Berikan rasa "mampu" kepada anak dengan cara memberikan pujian sewajarnya
setiap kali anak dapat menyelesaikan sesuatu, betapa pun kecilnya. Hal ini akan
menumbuhkan rasa percaya diri anak yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap
perilakunya kelak, disamping juga berpengaruh terhadap prestasi dan kemampuan
mereka untuk berkompetisi.
Anak sangat sulit untuk memahami dirinya, namun bukan berarti anak tidak dapat
memahami dirinya sendiri. Konsep menemukan dirinya sendiri merupakan
kesadaran atas keberadaan diri anak di lingkungannya sehingga akan menumbuhkan
rasa "diterima" oleh lingkungannya. Perasaan ini akan mengembangkan harga diri
anak yang diperlukan sebagai kontrol diri atas segala perilaku dan ucapannya. Cara
membimbingnya dilakukan dengan cara memberikan tugas atau kewajiban sebagai
anggota keluarga, sesuai dengan kemampuannya.
6.Tanamkan Sikap Jujur
Kejujuran ibarat mata uang yang berlaku dimana saja dan kapanpun juga.
Membohongi anak sama buruknya berbohong kepada orang lain di depan anak.
Jangan pula terburu-buru memberi capl "pembohong" kepada anak saat menceritakan
imajinasinya. Anak balita belum bisa membedakan antara imajinasi dengan
kenyataan.
7.Jadilah Teladan
Mulailah tindakan dengan memberikan keteladanan. Anak merupakan peniru yang
paling ulung. Segala yang dilihat, didengar dan dirasakan akan dapat ditirukan
dengan tepat. Jangan lakukan apapun yang orang tua tidak ingin hal tersebut
dilakukan oleh anak. Menjadi teladan bukan berarti menjadikan anak pengekor kita.
I.Gangguan yang Sering Ditemukan
Terdapat beberapa gangguan yang sering ditemukan pada anak dan perlu diketahui
orang tua atau pengaush sehingga dapat dilakukan tindakan penanganan dengan
segera. Gangguan yang sering ditemukan adalah sebagai berikut:
1.Gangguan Bicara dan Bahasa
Kemampuan berbicara merupakan indikator seluruh perkembangan anak, karena
kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem
lainnya. Hal ini akan melibatkan aspek kognitif, motorik, psikologis, emosi dan
lingkungan sekitar anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan
bicara dan berbahasa bahkan dampaknya akan menetap.
2.Cerebral Palsy
Merupakan suatu kelainan gerakan dari postur tubuh yang tidak progresif, yang
disebabkan suatu kerusakan atau gangguan pada sel-sel motorik pada susunan syaraf
pusat yang sedang tumbuh atau belum selesai pertuimbuhannya.
3.Down Syndrom
Anak dengan Down Syndrom adalah individu yang tidak dapat dikenaL dari fenotifnya
dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah
kromosom 21 yang berlebih. Perkembangannya lebih lambat dari anak yang normal.
Beberapa faktor penting seperti kelainan jantung kongenital, hipotonia yang berat,
masalah biologis atau lingkungan lainnya dapat menyebabkan keterlambatan
perkembangan motorik dan keterlambatan untuk menolong diri sendiri.
4.Perawakan Pendek
Atau disebut sebagai short stature merupakan suatu terminologi mengenai tinggi
badan yang berada dibawah persentil 3 atau -2SD pada kurva pertumbuhan yang
berlaku pada populasi tersebut. Penyebabnya dapat karena variasi normal, gangguan
gizi, kelainan kromosom, penyakit sistemik atau karena kelainan endokrin.
5.Autisme
Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang gejalanya muncul
sebelum anak usia 3 tahun. Pervasif berati meliputi seluruh aspek perkembangan
sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat yang mempengaruhi anak secara
mendalam. Gangguan perkembangan yang ditemukan pada autisme mencakup
bidang interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
6.Retardasi Mental
Merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan tingkat intelegensi yang rendah (IQ
<70) yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi
terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal .
7.Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hyperaktivitas (GPPH)
GPPH disebut juga sebagai Attention Dificultty Hyperactivity Disorder (ADHD).
Merupakan gangguan dimana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan
perhatian dan seringkali disertai dengan hiperaktivitas.